Lihat Aku

Rabu, 03 Juli 2013

PEMILU 2014: MENYULAM PEMBANGUNAN BANGSA MASA DEPAN



The Tyranny of Prince in an Oligarchy is not so dangerous to the public welfare as the apathy of a citizen in a democracy, adalah sebuah kalimat lawas dari seorang Baron De Montesqiue pada abad ke-17. Dari awal tampaknya Montesqiue sudah menyadari bahwa demokrasi akan menjadi sistem yang tidak akan berimplikasi baik jika warga negara bersikap apatis terhadap segala bentuk formalisme demokrasi yang ada, termasuk juga pemilihan umum.
Membicarakan sistem politik dalam negara yang berhaluan demokrasi macam Pemilihan Umum (Pemilu) tentu berbicara harapan dan cita-cita. Sebab pemilihan umum merupakan salah satu instrumen kelembagaan penting di dalam negara demokrasi. Yang mana dalam demokrasi itu di tandai dengan 3 (tiga) syarat yakni : adanya kompetisi di dalam memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan, adanya partisipasi masyarakat, adanya jaminan hak-hak sipil dan politik.
Arief rahman dalam bukunya, Sistem Politik Indonesia (2001), menuliskan bahwa proses politik mengisyaratkan harus adanya kapabilitas sistem. Kapabilitas sistem adalah kemampuan sistem untuk menghadapi kenyataan dan tantangan. Sementara itu, dalam mengukur keberhasilan prestasi politik, tentu setiap zaman memeiliki barometer tersendiri. Pada zaman klasik sepeti Aristoteles dan Plato, mengukur prestasi politik dari sudut moral. Sedangkan era modern sekarang ahli politik melihatnya dari tingkat prestasi (performance level) yaitu seberapa besar pengaruh lingkungan dalam masyarakat, lingkungan luar masyarakat dan lingkungan internasional.
Jelang 2014, hiruk pikuk pemilihan umum sudah kian terasa, gambar para calon wakil rakyat terpampang pada area-area strategis dijalanan mulai disudut kota sampai dengan daerah dipelosok-pelosok. Belum lagi iklan-iklan yang bernuansa politis sudah semakin ramai, yang dihiasi oleh wajah politisi lama dan baru. Para calon wakil rakyat tersebut juga tidak kalah heboh dalam bermanuver menunjukkan pencitraan sebagai pemimpin terbaik bagi konstituennya. Safari politik para calon untuk menyapa masyarakat, seperti yang kita kenal sekarang “blusukan”, dan mendatangi simpul-simpul massa intensitasnya juga semakin gencar.
Disisi lain, pemilu dengan segala plus minusnya memang sampai saat ini masih tetap diyakini sebagai ruang yang memfasilitasi segala harapan dan cita-cita rakyat. Pemilu juga masih menjadi tumpuan dan harapan untuk memilih pemimpin yang benar-benar mampu mengatasi persoalan kesejahteraan serta kemiskinan di masyarakat. Prihal ini lah yang menjawab semua pertanyaan, mengapa pemilu dianggap masih relevan untuk dapat dilaksanakan. Selain itu Pemilu yang dilakukan secara langsung digunakan sebagai barometer untuk mengukur keberhasilan seorang pemimpin diperiode sebelumnya.
Jeffrey Sachs dalam karyanya, The End of Poverty (2005), Menuliskan bahwa keberadaan human capital sangat terkait kemampuan pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan. Artinya, apa yang dijanjikan dalam kampanye merupakan hutang moral terhadap rakyat yang harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan dan kesejahteraan. Hal ini sesuai dengan landasan filosofis dari sistem demokrasi yang selama ini terus digelorakan oleh banyak kalangan.
Pada konteks lain, para  calon wakil rakyat, tentu sudah memahami betul prihal landasan yang sangat fundamental dari pelaksanaan Pemilu itu sendiri. Sehingga pada platform yang natural, Pemilu adalah sebuah media untuk memilih pemimpin yang betul-betul dapat menyelesaikan berbagai macam persoalan yang dialami oleh rakyatnya. Dan sekiranya dapat meletakkan persoalan kesejahteraan rakyat dan kebijakan yang berpihak pada rakyat menjadi prioritas.
Mencari Pemimpin Ideal
Sebenarnya yang menjadi persoalan kita saat ini adalah bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis moral. Para wakil rakyat tidak menyadari fungsi mereka sebagai agen yang mewakili suara rakyat. Para birokrat tidak menyadari fungsi mereka sebagai pelayan masyarakat. Dalam kaca mata Islam sendiri, bagaimana Kejayaan umat Islam secara naluriah juga disebabkan keingian kuat pendahulu-pendahulu Islam untuk maju dan berbuat kebajikan bagi umat yang lain.
Khalifah Umar bin Khatab misalkan, memberikan sebuah contoh bagaimana menjadi seorang Amirul Mukminin yang amanah, beliau rela untuk mengangkat sendiri gandum hanya untuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan.

Selanjutnya, bagaimana dengan perilaku pemegang kekuasaan di negeri ini? Ilustrasi sosok Umar Bin Khatab merupakan sebuah ilustrasi kesederhanaan yang hakiki. Sebuah tanggung jawab yang keluar dari moral dan keinginan melihat bangsanya berdiri tegak dihadapan bangsa lain.
Menyambut pemilu 2014, mengingat kembali pesan Almarhum Cak Nur, bahwa beliau sangat meyakini dalam demokrasi yang baik, proses mesti berjalan dengan tujuan. Demokrasi mesti ditempuh dengan mengedepankan fatsun politik. Namun, ketika demokrasi dilakukan dengan menghalalkan segala cara, maka itu merupaka hal yang sangat naïf.
Seyogyanya pemilu adalah sebuah tonggak awal menatap masa depan bangsa. Dimana segala harapan dan cita-cita, yang pada periode sebelumnya dirasa tidak berjalan dan katakanlah gagal, maka pemilu adalah tempat untuk mencari pemimpin yang ideal dalam menjawab segala keinginan rakyat, dan melanjutkan apa yang belum diselesaikan pada periode sebelumnya.
Hemat saya, jika dalam proses politik, calon pemimpin memanfaatkan momentum pemilu untuk menarik simpati rakyat agar memilih dirinya, maka hal yang sederhana adalah meletakkan semua kebijakan berdasarkan kebutuhan rakyat kembali.
Pada akhirnya menarik mengambil hikmah dari pernyataan seorang Indonesianis, Benedict Anderson, Is Asian nationalism unique? Apakah nasionalisme Asia unik? Jawabnya tidak, yang unik adalah perilaku elit politik bangsa yang terkadang lupa kacang atas kulitnya.