Lihat Aku

Senin, 22 April 2013

menggores jejak dalam bingkai

Selalu ada senang dan juga sedih
begitulah dalam menjalani kehidupan ini, banyak rintangan cobaan ataupun kesenangan karna itu yang dinamakan hidup, tak penah saya bayangkan jika saya bisa hidup sampai hari ini.
umur saya 23 melangkah ke 24, cukup lama saya hidup meskipun orang tua saya lebih dulu hidup dan sampai hari ini masih hidup, terimakasih tuhan telah memberikan saya hidup, rizqi, kesehatan dan juga nikmat-nikmat dan tak lupa kau berikanku cobaan agar hidup ni ebih bermakna, terimakasih ayah yang telah menitip menitipkan air manimu kerahim ibu hingga aku terlahir sempurna (mata, telinga dan hati) lengkap ketiganya. kehidupan ini akan aku coba maknai sehingga aku bisa bertahan hingga ajalku menjemput.
aku masih ingat saat aku kecil saat aku masih manja dan suka duduk dipangkuan ibu, saat aku menemani ayah kesawah aku juga masih ingat jelas, saat menemani ibu kepasar aku masih ingat jelas.
ibu,,,,,,
ayah,,,,,
memang kalian tidak dapat memberikan kemewahan berupa harta yang berlimpah, tapi saya sangat bersyukur karna kalian beri kenangan kemewahan kasih saya yang terpernah mengharap balas. sejak di taman kanak-kanak kalian selalu membimbingku, saat aku duduk dibangku sd kalian mengajariku dan aku duduk dibangku smp kalian menyemangatiku, aku duduk di sma kalian terus memberi wawasan bagiku, dan hingga aku duduk dibangku kuliah kalian tak pernah henti memberiku do'a. 13 th aku menghabiskan waktuku di bangku tk dan bangku sekolah dasar hingga menengah atas. 3,5th sku habiskan dibangku kuliah, 1th aku habiskan di dunia kerja dan hari ini aku melanjutkan lagi di dunia mahasiswa.
saat aku menulis catatan ini aku terus berhayal jika kelak aku mencapai kesuksesan nanti aku akan ingat masa-masa dimana aku kecil yang cukup sulit agar aku tak lupa megitu keras perjuangan kalian membesarkanku. hari ini aku berencana untuk masa depanku meskipun aku tahu yang menentukan semua adalah sang Ilahi yang maha segalanya, tapi saya terus memacu semanganku dan memejemen semua waktuku. jika hari ini aku berusia 23 tahun maka diusiaku ke-25 aku harus menyelesaikan studi S1-ku dan diusia selanjutnya aku akan bekerja menggapai citaku diusiaku 27 aku akan melanjutkan studiku ke S2 dan di usiaku ke 29 aku akan menyudahi masa lajangku dan diusia ku yang ke 31 akua akan mencoba menerapkan ilmu politikku sebagai pemimpin (tapi ini hanya rencanaku).
aku sering mendengar para senior, guru/dosen maupun orang-orang yang memotipasiku bahwa" jika seseorang bisa memanajemen waktunya maka bersiaplah menerima suksesnya" dan dari pemikiran itu aku mencoba dan terus berusaha agar tidak menyia-nyiakan waktuku dan menyia-nyiakan masa mudaku.
benar hari ini aku bukanlah siapa-siapa dan belum bisa berbuat apa-apa, tapi dengan semangat dan keberanianku aku tidak mencoba untuk mengeluh.
hari ini banyak teman-teman kita yang terjerumus di dunia kelam dan menyia-nyiakan waktunya dan masa mudanya, mungkin eka berpikir waktu aka kembali pada mereka, tapi itu hanya Nol besar karna hanya orang yang mau berusaha yang bisa menggapai suksesnya seperti kata firman "manjada wa jadda" barang siapa yang bersungguh sungguh maka ia akan mendapat.
selain itu kita juga harus mempunyai Ilmu karana barang siapa yang memiliki ilmu maka ia tidak akan tersesat, rosulpun pernah bersabda "tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina" jadi dimanapun ilmu itu berada yang pernah henti untuk mendapatkanya.
saya pun punya pepatah  'orang beruntung adalah orang yang punya kemampuan dan juga kesempatan"
jadi jika ia mempunyai kemampuan tapi dia tidak punya kesempatan dia tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan, dan juga jika ia punya kesempatan tapi ia tidak punya kemampuan maka lepaslah kesempatannya dan iapun tidak mendapatkan apa seharusnya ia peroleh, jadi mari kita coba dalami ilmu dan kita luaskan Silaturahmi agar kelak kita tapatkan sukses.

Kamis, 11 April 2013

31 agustus 2012 (ariesta 2)

Detak jantungku, hembus napasku, kedipan mataku, bisikan dutelinga, sentuhan dikulitku, teriakan dan lengkingan dari suaraku.
Dan juga juga perasaan yang tersimpan dalam hati. Hari ini, kemarin dan nanti kan kutulin sebagai catatan detik ini 31 agustus 2012 jumat 12;25. Kisah hari-hari yang bagiku belum berarti, kebahagiiaan yang belum bisa diraih, pekerjaan yg dibanggakan, jabatan yg diagungkan dan wanita yang aku cintai (semua belum aku rangkuli) kemarin aku adalah pelajar yang ditanggung oleh orang tua ku, hari ini aku pengangguran yang tak tentu arah, namun esok aku harus gapai cita-citaku. Kadang aku terdiam dan menyesali langkahku, kadang aku termangu melihat jejak langkahku, dan kadang aku tegar tuk hadapi hidup yang bahagia ketika keluhanku kuserahkan pada tuhan (alloh swt). Hidup itu memang adalah cerita yang kelak akan disampaikan atau diulang kembali oleh anak cuucu kita, jadi tergantung catatan yang kita tulis mka itu yg akan dibacakan kelak.  seperti saat ini aku hanya bisa bicara dan belum bisa berbuat, tapi aku tetap bersukur karna masih bisa didengar, tapi besok aku akan berbuat agar bisa dilihat. Karna ketika sinergi antara lisan dan tulisan maka terciptalah seharah.kehdupanku hari ini masih terasa pahit dan sangat mengeringkan tenggorokanku, aku butuh air dan setetes madu, namun itu hanya hayalan jikala keadaan tak aku rubah. Tat kala angin bertiup kebarat dan ketimur aku bagai debu yang bisa tertiup begiitu saja karna akar pohon belum merangkulku sebagai mana tanah yang basah, Kadang aku berhayal ketika aku kelak mati apa yang akan dikenang anak cucuku kala ku mati jika tak ada yang bisa mereka banggakan, dan akupun langsung terpaku.
Kadang aku terpana saat kulihat orang disekelilingku yang lebih murung dariku karna meratapi kehidupanya lebih miris dariku dan akupun merasa tenang dan coba membagi kebahagianku, dan kadang aku merasa gelap gulita ketika kulihat orang di sekelilingku mempunyai harta berlimpah dan hidup mewah....
Dan aku terperanjak dari semua lamunku. Aku harus bangkin dan bergerak karna tuhan masih memberikan kesabaran dan ketegaran kepadaku tuk jlani hidup.
Dan aku pun berkata jalanku masih panjang.

MEREKA BILANG AKU “BODOH”


Karya: Ahmad Erlangga Ferdianto

Antara Kehidupan dan Kematian
“Mak..denger, si Yani sudah melahirkan”..Teriak seorang lelaki muda, jika dilihat dari usia kira-kira lelaki itu baru berusia 26 (dua puluh enam) tahun. Sembari berjalan bulak-balik dengan nafas terengah-engah. Nampaknya lelaki tersebut sedang dilanda panik, riang, dan haru. Tiba-tiba dari balik ruangan rumah sakit, terdengar suara bayi menangis, suatu kondisi yang kontradiktif, disaat sebagian orang tertidur, karena wajar saja jam pada saat itu menunjukkan pukul sekitar 03.00 wib atau dini hari.Untuk seorang bayi itu hal yang lumrah, karena banyak bayi yang pada saat waktu bersamaan terbangun, mungkin karena dia mengopol. Namun peristiwa tersebut agak berbeda, tidak lama setelah suara tangisan bayi tersebut memcah keheningan orang-orang yang berada diluar, seorang ibu tua kalau dilihat dari rawut wajahnya ibu tua yang memakai baju terusan putih, dan mulutnya tertutup oleh masker khas seorang bidan desa. Dengan rawut wajah sedekit mengkerut tergambar perasaan haru dan kecewa dari ibu tersebut.
Setelah sekian lama ibu tua itu mempertahankan rawut wajahnya yang tidak jauh berbeda pada saat dia keluar tadi, tiba-tiba, “Mana bapaknya??” ibu itu angkat bicara, “saya bu!!”, kata seorang laki-laki yang tadi sedang panik, dan berkali-kali mundar-mandir tampak cemas. “Bisa ikut saya sebentar”, kata ibu tua menyambung jawaban laki-laki tadi, sambil berjalan menuju ruangan yang sudah pasti kita dapat menebak bahwa itu ruang kerja bidan, disusul laki-laki yang mengaku bapak dari bayi yang baru saja menjadi manusia yang utuh, mengikuti dari belakang. Dalam ruangan terlihat mereka berdua saling bertatapan, terpancar jelas rawut wajah ibu tua nampak menggambarkan rasa haru, berbeda pada saat dia keluar dari kamar persalinan beberapa saat yang lalu, berbeda dengan rawut wajah lelaki yang mengikuti sampai ruangan, dari sorot wajahnya, lelaki itu terlihat riang dan harap-harap cemas, mungkin perasaan gembira karena bayi yang diidam-idamkan akhirnya terlahir kedunia dengan selamat.
“Selamat pak!!bayi anda lahir dengan normal, dan dia laki-laki!!” kata bidan tua. “Alhamdulillah, terimakasih bu!!” rasa gembira terpancar dan sebuah ucapan yang normatif dalam kondisi seperti ini, tentu saja. “Tetapi, mohon maaf ibunya tidak bisa kita selamatkan karena mengalami pendarahan” seketika rawut wajah lelaki muda terlihat berubah, “maksudnya gimana bu!!!”, dengan intonasi nada tinggi lelaki itu ingin kita tahu bahwa dia sedang mengalami perasaan sedih dan terkejut, siapa sangka baru saja merasakan kebahagiaan atas kelahiran bayi laki-laki, kemudian dipaksa untuk menerima kenyataan, bahwa si ibu bayi tadi sudah tiada. Karena siapapun kita, banyak yang membenci kematian, meskipun kematian merupakan suatu hal yang kita nanti.
Tidak berhenti disitu, lelaki yang berada dalam ruangan bidanpun, akhirnya beranjak dari ruangan menuju kerumunan orang yang tadi berada didepan kamar yang tak lain adalah keluarga yang tengah menanti-nantikan kelahiran bayi tersebut.