Karya: Ahmad Erlangga Ferdianto
Antara
Kehidupan dan Kematian
“Mak..denger, si Yani sudah
melahirkan”..Teriak seorang lelaki muda, jika
dilihat dari usia kira-kira lelaki itu baru berusia 26 (dua puluh enam) tahun.
Sembari berjalan bulak-balik dengan nafas terengah-engah. Nampaknya lelaki
tersebut sedang dilanda panik, riang, dan haru. Tiba-tiba dari balik ruangan
rumah sakit, terdengar suara bayi menangis, suatu kondisi yang kontradiktif,
disaat sebagian orang tertidur, karena wajar saja jam pada saat itu menunjukkan
pukul sekitar 03.00 wib atau dini hari.Untuk seorang bayi itu hal yang lumrah,
karena banyak bayi yang pada saat waktu bersamaan terbangun, mungkin karena dia
mengopol. Namun peristiwa tersebut agak berbeda, tidak lama setelah suara
tangisan bayi tersebut memcah keheningan orang-orang yang berada diluar,
seorang ibu tua kalau dilihat dari rawut wajahnya ibu tua yang memakai baju
terusan putih, dan mulutnya tertutup oleh masker khas seorang bidan desa.
Dengan rawut wajah sedekit mengkerut tergambar perasaan haru dan kecewa dari
ibu tersebut.
Setelah
sekian lama ibu tua itu mempertahankan rawut wajahnya yang tidak jauh berbeda
pada saat dia keluar tadi, tiba-tiba, “Mana
bapaknya??” ibu itu angkat bicara, “saya
bu!!”, kata seorang laki-laki yang tadi sedang panik, dan berkali-kali
mundar-mandir tampak cemas. “Bisa ikut
saya sebentar”, kata ibu tua menyambung jawaban laki-laki tadi, sambil
berjalan menuju ruangan yang sudah pasti kita dapat menebak bahwa itu ruang kerja
bidan, disusul laki-laki yang mengaku bapak dari bayi yang baru saja menjadi
manusia yang utuh, mengikuti dari belakang. Dalam ruangan terlihat mereka
berdua saling bertatapan, terpancar jelas rawut wajah ibu tua nampak
menggambarkan rasa haru, berbeda pada saat dia keluar dari kamar persalinan
beberapa saat yang lalu, berbeda dengan rawut wajah lelaki yang mengikuti
sampai ruangan, dari sorot wajahnya, lelaki itu terlihat riang dan harap-harap
cemas, mungkin perasaan gembira karena bayi yang diidam-idamkan akhirnya
terlahir kedunia dengan selamat.
“Selamat pak!!bayi anda lahir
dengan normal, dan dia laki-laki!!” kata bidan tua. “Alhamdulillah, terimakasih bu!!” rasa
gembira terpancar dan sebuah ucapan yang normatif dalam kondisi seperti ini,
tentu saja. “Tetapi, mohon maaf ibunya
tidak bisa kita selamatkan karena mengalami pendarahan” seketika rawut
wajah lelaki muda terlihat berubah, “maksudnya
gimana bu!!!”, dengan intonasi nada tinggi lelaki itu ingin kita tahu bahwa
dia sedang mengalami perasaan sedih dan terkejut, siapa sangka baru saja
merasakan kebahagiaan atas kelahiran bayi laki-laki, kemudian dipaksa untuk
menerima kenyataan, bahwa si ibu bayi tadi sudah tiada. Karena siapapun kita,
banyak yang membenci kematian, meskipun kematian merupakan suatu hal yang kita
nanti.
Tidak
berhenti disitu, lelaki yang berada dalam ruangan bidanpun, akhirnya beranjak
dari ruangan menuju kerumunan orang yang tadi berada didepan kamar yang tak
lain adalah keluarga yang tengah menanti-nantikan kelahiran bayi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar