Lihat Aku

Kamis, 11 April 2013

MEREKA BILANG AKU “BODOH”


Karya: Ahmad Erlangga Ferdianto

Antara Kehidupan dan Kematian
“Mak..denger, si Yani sudah melahirkan”..Teriak seorang lelaki muda, jika dilihat dari usia kira-kira lelaki itu baru berusia 26 (dua puluh enam) tahun. Sembari berjalan bulak-balik dengan nafas terengah-engah. Nampaknya lelaki tersebut sedang dilanda panik, riang, dan haru. Tiba-tiba dari balik ruangan rumah sakit, terdengar suara bayi menangis, suatu kondisi yang kontradiktif, disaat sebagian orang tertidur, karena wajar saja jam pada saat itu menunjukkan pukul sekitar 03.00 wib atau dini hari.Untuk seorang bayi itu hal yang lumrah, karena banyak bayi yang pada saat waktu bersamaan terbangun, mungkin karena dia mengopol. Namun peristiwa tersebut agak berbeda, tidak lama setelah suara tangisan bayi tersebut memcah keheningan orang-orang yang berada diluar, seorang ibu tua kalau dilihat dari rawut wajahnya ibu tua yang memakai baju terusan putih, dan mulutnya tertutup oleh masker khas seorang bidan desa. Dengan rawut wajah sedekit mengkerut tergambar perasaan haru dan kecewa dari ibu tersebut.
Setelah sekian lama ibu tua itu mempertahankan rawut wajahnya yang tidak jauh berbeda pada saat dia keluar tadi, tiba-tiba, “Mana bapaknya??” ibu itu angkat bicara, “saya bu!!”, kata seorang laki-laki yang tadi sedang panik, dan berkali-kali mundar-mandir tampak cemas. “Bisa ikut saya sebentar”, kata ibu tua menyambung jawaban laki-laki tadi, sambil berjalan menuju ruangan yang sudah pasti kita dapat menebak bahwa itu ruang kerja bidan, disusul laki-laki yang mengaku bapak dari bayi yang baru saja menjadi manusia yang utuh, mengikuti dari belakang. Dalam ruangan terlihat mereka berdua saling bertatapan, terpancar jelas rawut wajah ibu tua nampak menggambarkan rasa haru, berbeda pada saat dia keluar dari kamar persalinan beberapa saat yang lalu, berbeda dengan rawut wajah lelaki yang mengikuti sampai ruangan, dari sorot wajahnya, lelaki itu terlihat riang dan harap-harap cemas, mungkin perasaan gembira karena bayi yang diidam-idamkan akhirnya terlahir kedunia dengan selamat.
“Selamat pak!!bayi anda lahir dengan normal, dan dia laki-laki!!” kata bidan tua. “Alhamdulillah, terimakasih bu!!” rasa gembira terpancar dan sebuah ucapan yang normatif dalam kondisi seperti ini, tentu saja. “Tetapi, mohon maaf ibunya tidak bisa kita selamatkan karena mengalami pendarahan” seketika rawut wajah lelaki muda terlihat berubah, “maksudnya gimana bu!!!”, dengan intonasi nada tinggi lelaki itu ingin kita tahu bahwa dia sedang mengalami perasaan sedih dan terkejut, siapa sangka baru saja merasakan kebahagiaan atas kelahiran bayi laki-laki, kemudian dipaksa untuk menerima kenyataan, bahwa si ibu bayi tadi sudah tiada. Karena siapapun kita, banyak yang membenci kematian, meskipun kematian merupakan suatu hal yang kita nanti.
Tidak berhenti disitu, lelaki yang berada dalam ruangan bidanpun, akhirnya beranjak dari ruangan menuju kerumunan orang yang tadi berada didepan kamar yang tak lain adalah keluarga yang tengah menanti-nantikan kelahiran bayi tersebut.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar