Lihat Aku

Kamis, 12 Desember 2013

ini ceritaku

Assalamualaikum, Wr.Wb
Salam Sejatera
dan..... apa kabar sahabat.

oh iya, kenalkan nama saya mizariadi  biasa disapa Miza, Roy, Mad dan ada yang manggil Dongah (panggilan untuk anak kedua Orang Lampung), umur saya 24 tahun lulusan D3 Ilmu perpustakaan Fisip universitas lampung. saya anak 3 dari 3 bersaudara dan saya sekarang sedang kuliah di Universitas Muhammadiyah lampung  jurusan Ilmu Komunikasi semoga tahun depan selesai biar bisa ngelanjutin S2 dan S3 dan semoga bisa menyandang gelar Doctor, Aminnnnnnnnnnnnn.....

malam ini saya ingin menulis tentang sedikit pengalaman hidup gw, soalnya gw lg binging/ galau dengan hidup gw hari ini dan gak tau gimana masa depan gw soalnya sampai detik ini gw belum tau arah hidup, pekerjaan tetap gw belum ada, harta gw gak punya, rumah belum ada dan satu lagi gw Jomlo. sumpah sob gw bingung seribu kali bingung. ntah mau jadi apa gw ini kelak.
sejak kecil gw didik keras oleh orang tua gw, tapi gw memang mengakui kalo gw anak paling manja dari kami bertiga bersaudara, ibu gw seorang Guru Sd dan bapak gw Sopir jadi gw bukan lahir dari keluarga yang berada, dari situlah gw pengen merubah kehidupan keluarga gw. meski pun gw punya dua kakak tapi mereka belum punya pekerjaan yang mapan dan bisa diandalakan. miza kecil adalah anak yang rajin, soleh dan nurut ama orang tua meski sedikit nakal ia diakui temen temen memiliki otak yang cerdas, dari Tk sampai Smp ia bisa menjadi juara kelas. tapi beranjak Sma ia mulai nakal dan cukup badung selain bolos sekolah dia suka ngerokok, minum alkohol dan kalo malam suka keluyuran, ini akibat keluarga yang lg gak stabil. Brokenhome kalo bahasa britisnya. pas duudk di bangku kuliah pergaulan makin tak tau arah, cz udah menyandang gelar mahasiswa kerjaan dia kali ini hobi bawa cewe ke kosan, minum alkohol makin jadi, dan ditambah satu lagi dia paling sering Berantem dikampus fisip unila sampe dijulukin macan kampus dia pernah berantem ama senior 3 tingkat diatas dia dan memang senior yang ia lawan memang tukang berantem di kampusnya itu kejadian tahun 2009 dan juga miza dkroyok 5 orang, beruntungnya dia menang maklum miza punya pasukan yang lebih anarkis. dari situlah miza sering berantem, ditahun 2011 dia berantem lagi dan dikeroyok 25 orang dan babak belur yang uniknya dia sejengkalpun gak lari dan membuat lawannya malah Down mentalnya. miza pada saat itu padahal udah bersumpah ama temen temennya untuk gak berantem lagi karna sebelumnya dia pernah bikin ulah pas main futsal dengan jurusan Ilmu komunikasi dan akibatnya kisruh antara Jurusan komunikasi dengan jurusan D3 ilmu perpustakaan yang dibantu 4 jurusan yaitu APS, HUMAS, Sosiologi dan ilmu pemerintahan yang akibatnya Komunikasi babakbelur. mungkin memang sudah wataknya dia hoby berantem. gak sampai disitu saja, dua bulan wisudanya dia ikut tawuran saat Fisip bentrok dengan Fakultas Teknik, dia dibarisan terdepan yang ngebuat gedung fisip banyak yang pecah kacanya dan belasan mobil rusak dan puluhan motor hancur akibat dari tawuran tersebut.
nah kali ini sosok miza mengukur prestasi, bagai mana tidak dia merahih penghargaan sebagai Wisudawan terbaik kedua Diploma 3 Universitas Lampung, benar-benar aneh mahasiswa yang hobinya berantem bisa jadi wisudawan terbaik.
jadi begini ceritanya, berbicara akademik dan organisasi miza gak pernah menyianyiakan waktu. saat di semester satu tepatnya pertengahan tahun 2008 saat pertama kali ia duduk di kursi kampus ia aktip di organisi kampus dan juga organisasi ekternal kampus yaitu Himpunan Mahasiswa islam, dikampus ia penah menjabat ketua umum jurusan, pernah menjadi ketua komisi Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas lampung, dan ia tidak pernah meninggalkan jam kuliah ternyata ia rajin ngumpul tugas dan juga gak pernah ketinggalan ujia, karna ia tau betapa susahnya perjuanagan dia meminta izin kuliah ama kedua orang tuanya, miza memamng nakal tapi ia sosok yang cerdas dan juga nakal. dari prestasinya tersebut ia bisa membanggakan kedua orang tuanya di dunia akademik. mungkin dalam pandangan orang kebanyakan setiap buku bisa dinilai dari sampulnya, tapi kali ini miza malah sebaliknya.
nah begitulah cerita sedikit buat ngilangin galau gw,,,,,!!!
inget ya sob, tulisan gw ini sekedar ngilangi penat dikepala gw aja,,, hhehehhe...    eh, buat lo sis kalo lo jomlo lu sms gw aja soalnya gw juga gak punya pacar,,, hehheh
oke dah makasih aja kalo lu baca tulisan gw ini, semoga bisa nambah temen gw.
wasalam...... terimakasih
goodbye brother and Sister

Rabu, 03 Juli 2013

PEMILU 2014: MENYULAM PEMBANGUNAN BANGSA MASA DEPAN



The Tyranny of Prince in an Oligarchy is not so dangerous to the public welfare as the apathy of a citizen in a democracy, adalah sebuah kalimat lawas dari seorang Baron De Montesqiue pada abad ke-17. Dari awal tampaknya Montesqiue sudah menyadari bahwa demokrasi akan menjadi sistem yang tidak akan berimplikasi baik jika warga negara bersikap apatis terhadap segala bentuk formalisme demokrasi yang ada, termasuk juga pemilihan umum.
Membicarakan sistem politik dalam negara yang berhaluan demokrasi macam Pemilihan Umum (Pemilu) tentu berbicara harapan dan cita-cita. Sebab pemilihan umum merupakan salah satu instrumen kelembagaan penting di dalam negara demokrasi. Yang mana dalam demokrasi itu di tandai dengan 3 (tiga) syarat yakni : adanya kompetisi di dalam memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan, adanya partisipasi masyarakat, adanya jaminan hak-hak sipil dan politik.
Arief rahman dalam bukunya, Sistem Politik Indonesia (2001), menuliskan bahwa proses politik mengisyaratkan harus adanya kapabilitas sistem. Kapabilitas sistem adalah kemampuan sistem untuk menghadapi kenyataan dan tantangan. Sementara itu, dalam mengukur keberhasilan prestasi politik, tentu setiap zaman memeiliki barometer tersendiri. Pada zaman klasik sepeti Aristoteles dan Plato, mengukur prestasi politik dari sudut moral. Sedangkan era modern sekarang ahli politik melihatnya dari tingkat prestasi (performance level) yaitu seberapa besar pengaruh lingkungan dalam masyarakat, lingkungan luar masyarakat dan lingkungan internasional.
Jelang 2014, hiruk pikuk pemilihan umum sudah kian terasa, gambar para calon wakil rakyat terpampang pada area-area strategis dijalanan mulai disudut kota sampai dengan daerah dipelosok-pelosok. Belum lagi iklan-iklan yang bernuansa politis sudah semakin ramai, yang dihiasi oleh wajah politisi lama dan baru. Para calon wakil rakyat tersebut juga tidak kalah heboh dalam bermanuver menunjukkan pencitraan sebagai pemimpin terbaik bagi konstituennya. Safari politik para calon untuk menyapa masyarakat, seperti yang kita kenal sekarang “blusukan”, dan mendatangi simpul-simpul massa intensitasnya juga semakin gencar.
Disisi lain, pemilu dengan segala plus minusnya memang sampai saat ini masih tetap diyakini sebagai ruang yang memfasilitasi segala harapan dan cita-cita rakyat. Pemilu juga masih menjadi tumpuan dan harapan untuk memilih pemimpin yang benar-benar mampu mengatasi persoalan kesejahteraan serta kemiskinan di masyarakat. Prihal ini lah yang menjawab semua pertanyaan, mengapa pemilu dianggap masih relevan untuk dapat dilaksanakan. Selain itu Pemilu yang dilakukan secara langsung digunakan sebagai barometer untuk mengukur keberhasilan seorang pemimpin diperiode sebelumnya.
Jeffrey Sachs dalam karyanya, The End of Poverty (2005), Menuliskan bahwa keberadaan human capital sangat terkait kemampuan pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan. Artinya, apa yang dijanjikan dalam kampanye merupakan hutang moral terhadap rakyat yang harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan dan kesejahteraan. Hal ini sesuai dengan landasan filosofis dari sistem demokrasi yang selama ini terus digelorakan oleh banyak kalangan.
Pada konteks lain, para  calon wakil rakyat, tentu sudah memahami betul prihal landasan yang sangat fundamental dari pelaksanaan Pemilu itu sendiri. Sehingga pada platform yang natural, Pemilu adalah sebuah media untuk memilih pemimpin yang betul-betul dapat menyelesaikan berbagai macam persoalan yang dialami oleh rakyatnya. Dan sekiranya dapat meletakkan persoalan kesejahteraan rakyat dan kebijakan yang berpihak pada rakyat menjadi prioritas.
Mencari Pemimpin Ideal
Sebenarnya yang menjadi persoalan kita saat ini adalah bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis moral. Para wakil rakyat tidak menyadari fungsi mereka sebagai agen yang mewakili suara rakyat. Para birokrat tidak menyadari fungsi mereka sebagai pelayan masyarakat. Dalam kaca mata Islam sendiri, bagaimana Kejayaan umat Islam secara naluriah juga disebabkan keingian kuat pendahulu-pendahulu Islam untuk maju dan berbuat kebajikan bagi umat yang lain.
Khalifah Umar bin Khatab misalkan, memberikan sebuah contoh bagaimana menjadi seorang Amirul Mukminin yang amanah, beliau rela untuk mengangkat sendiri gandum hanya untuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan.

Selanjutnya, bagaimana dengan perilaku pemegang kekuasaan di negeri ini? Ilustrasi sosok Umar Bin Khatab merupakan sebuah ilustrasi kesederhanaan yang hakiki. Sebuah tanggung jawab yang keluar dari moral dan keinginan melihat bangsanya berdiri tegak dihadapan bangsa lain.
Menyambut pemilu 2014, mengingat kembali pesan Almarhum Cak Nur, bahwa beliau sangat meyakini dalam demokrasi yang baik, proses mesti berjalan dengan tujuan. Demokrasi mesti ditempuh dengan mengedepankan fatsun politik. Namun, ketika demokrasi dilakukan dengan menghalalkan segala cara, maka itu merupaka hal yang sangat naïf.
Seyogyanya pemilu adalah sebuah tonggak awal menatap masa depan bangsa. Dimana segala harapan dan cita-cita, yang pada periode sebelumnya dirasa tidak berjalan dan katakanlah gagal, maka pemilu adalah tempat untuk mencari pemimpin yang ideal dalam menjawab segala keinginan rakyat, dan melanjutkan apa yang belum diselesaikan pada periode sebelumnya.
Hemat saya, jika dalam proses politik, calon pemimpin memanfaatkan momentum pemilu untuk menarik simpati rakyat agar memilih dirinya, maka hal yang sederhana adalah meletakkan semua kebijakan berdasarkan kebutuhan rakyat kembali.
Pada akhirnya menarik mengambil hikmah dari pernyataan seorang Indonesianis, Benedict Anderson, Is Asian nationalism unique? Apakah nasionalisme Asia unik? Jawabnya tidak, yang unik adalah perilaku elit politik bangsa yang terkadang lupa kacang atas kulitnya.

Senin, 22 April 2013

menggores jejak dalam bingkai

Selalu ada senang dan juga sedih
begitulah dalam menjalani kehidupan ini, banyak rintangan cobaan ataupun kesenangan karna itu yang dinamakan hidup, tak penah saya bayangkan jika saya bisa hidup sampai hari ini.
umur saya 23 melangkah ke 24, cukup lama saya hidup meskipun orang tua saya lebih dulu hidup dan sampai hari ini masih hidup, terimakasih tuhan telah memberikan saya hidup, rizqi, kesehatan dan juga nikmat-nikmat dan tak lupa kau berikanku cobaan agar hidup ni ebih bermakna, terimakasih ayah yang telah menitip menitipkan air manimu kerahim ibu hingga aku terlahir sempurna (mata, telinga dan hati) lengkap ketiganya. kehidupan ini akan aku coba maknai sehingga aku bisa bertahan hingga ajalku menjemput.
aku masih ingat saat aku kecil saat aku masih manja dan suka duduk dipangkuan ibu, saat aku menemani ayah kesawah aku juga masih ingat jelas, saat menemani ibu kepasar aku masih ingat jelas.
ibu,,,,,,
ayah,,,,,
memang kalian tidak dapat memberikan kemewahan berupa harta yang berlimpah, tapi saya sangat bersyukur karna kalian beri kenangan kemewahan kasih saya yang terpernah mengharap balas. sejak di taman kanak-kanak kalian selalu membimbingku, saat aku duduk dibangku sd kalian mengajariku dan aku duduk dibangku smp kalian menyemangatiku, aku duduk di sma kalian terus memberi wawasan bagiku, dan hingga aku duduk dibangku kuliah kalian tak pernah henti memberiku do'a. 13 th aku menghabiskan waktuku di bangku tk dan bangku sekolah dasar hingga menengah atas. 3,5th sku habiskan dibangku kuliah, 1th aku habiskan di dunia kerja dan hari ini aku melanjutkan lagi di dunia mahasiswa.
saat aku menulis catatan ini aku terus berhayal jika kelak aku mencapai kesuksesan nanti aku akan ingat masa-masa dimana aku kecil yang cukup sulit agar aku tak lupa megitu keras perjuangan kalian membesarkanku. hari ini aku berencana untuk masa depanku meskipun aku tahu yang menentukan semua adalah sang Ilahi yang maha segalanya, tapi saya terus memacu semanganku dan memejemen semua waktuku. jika hari ini aku berusia 23 tahun maka diusiaku ke-25 aku harus menyelesaikan studi S1-ku dan diusia selanjutnya aku akan bekerja menggapai citaku diusiaku 27 aku akan melanjutkan studiku ke S2 dan di usiaku ke 29 aku akan menyudahi masa lajangku dan diusia ku yang ke 31 akua akan mencoba menerapkan ilmu politikku sebagai pemimpin (tapi ini hanya rencanaku).
aku sering mendengar para senior, guru/dosen maupun orang-orang yang memotipasiku bahwa" jika seseorang bisa memanajemen waktunya maka bersiaplah menerima suksesnya" dan dari pemikiran itu aku mencoba dan terus berusaha agar tidak menyia-nyiakan waktuku dan menyia-nyiakan masa mudaku.
benar hari ini aku bukanlah siapa-siapa dan belum bisa berbuat apa-apa, tapi dengan semangat dan keberanianku aku tidak mencoba untuk mengeluh.
hari ini banyak teman-teman kita yang terjerumus di dunia kelam dan menyia-nyiakan waktunya dan masa mudanya, mungkin eka berpikir waktu aka kembali pada mereka, tapi itu hanya Nol besar karna hanya orang yang mau berusaha yang bisa menggapai suksesnya seperti kata firman "manjada wa jadda" barang siapa yang bersungguh sungguh maka ia akan mendapat.
selain itu kita juga harus mempunyai Ilmu karana barang siapa yang memiliki ilmu maka ia tidak akan tersesat, rosulpun pernah bersabda "tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina" jadi dimanapun ilmu itu berada yang pernah henti untuk mendapatkanya.
saya pun punya pepatah  'orang beruntung adalah orang yang punya kemampuan dan juga kesempatan"
jadi jika ia mempunyai kemampuan tapi dia tidak punya kesempatan dia tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan, dan juga jika ia punya kesempatan tapi ia tidak punya kemampuan maka lepaslah kesempatannya dan iapun tidak mendapatkan apa seharusnya ia peroleh, jadi mari kita coba dalami ilmu dan kita luaskan Silaturahmi agar kelak kita tapatkan sukses.

Kamis, 11 April 2013

31 agustus 2012 (ariesta 2)

Detak jantungku, hembus napasku, kedipan mataku, bisikan dutelinga, sentuhan dikulitku, teriakan dan lengkingan dari suaraku.
Dan juga juga perasaan yang tersimpan dalam hati. Hari ini, kemarin dan nanti kan kutulin sebagai catatan detik ini 31 agustus 2012 jumat 12;25. Kisah hari-hari yang bagiku belum berarti, kebahagiiaan yang belum bisa diraih, pekerjaan yg dibanggakan, jabatan yg diagungkan dan wanita yang aku cintai (semua belum aku rangkuli) kemarin aku adalah pelajar yang ditanggung oleh orang tua ku, hari ini aku pengangguran yang tak tentu arah, namun esok aku harus gapai cita-citaku. Kadang aku terdiam dan menyesali langkahku, kadang aku termangu melihat jejak langkahku, dan kadang aku tegar tuk hadapi hidup yang bahagia ketika keluhanku kuserahkan pada tuhan (alloh swt). Hidup itu memang adalah cerita yang kelak akan disampaikan atau diulang kembali oleh anak cuucu kita, jadi tergantung catatan yang kita tulis mka itu yg akan dibacakan kelak.  seperti saat ini aku hanya bisa bicara dan belum bisa berbuat, tapi aku tetap bersukur karna masih bisa didengar, tapi besok aku akan berbuat agar bisa dilihat. Karna ketika sinergi antara lisan dan tulisan maka terciptalah seharah.kehdupanku hari ini masih terasa pahit dan sangat mengeringkan tenggorokanku, aku butuh air dan setetes madu, namun itu hanya hayalan jikala keadaan tak aku rubah. Tat kala angin bertiup kebarat dan ketimur aku bagai debu yang bisa tertiup begiitu saja karna akar pohon belum merangkulku sebagai mana tanah yang basah, Kadang aku berhayal ketika aku kelak mati apa yang akan dikenang anak cucuku kala ku mati jika tak ada yang bisa mereka banggakan, dan akupun langsung terpaku.
Kadang aku terpana saat kulihat orang disekelilingku yang lebih murung dariku karna meratapi kehidupanya lebih miris dariku dan akupun merasa tenang dan coba membagi kebahagianku, dan kadang aku merasa gelap gulita ketika kulihat orang di sekelilingku mempunyai harta berlimpah dan hidup mewah....
Dan aku terperanjak dari semua lamunku. Aku harus bangkin dan bergerak karna tuhan masih memberikan kesabaran dan ketegaran kepadaku tuk jlani hidup.
Dan aku pun berkata jalanku masih panjang.